1. Beranda
  2. Blog
  3. Kenapa Toko Furnitur dan Elektronik Perlu WebAR Sebelum Musim Harbolnas

AR untuk E-Commerce  ·  6 menit baca

Kenapa Toko Furnitur dan Elektronik Perlu WebAR Sebelum Musim Harbolnas

Pemulihan ritel Indonesia belum merata jelang Harbolnas. Bagaimana WebAR 3D membantu penjual furnitur dan elektronik konversi tanpa terus menambah diskon.

Kenapa Toko Furnitur dan Elektronik Perlu WebAR Sebelum Musim Harbolnas

Penjualan ritel Indonesia mulai tumbuh lagi, tapi tidak merata — dan Harbolnas, musim belanja online terbesar di Indonesia, tinggal menghitung minggu. Bagi penjual furnitur, elektronik, dan perlengkapan rumah tangga, artinya mereka harus berjuang lebih keras untuk porsi pertumbuhan yang lebih kecil, tepat di tengah minggu-minggu paling kompetitif soal harga sepanjang tahun. WebAR — augmented reality yang berjalan langsung di browser HP — adalah salah satu dari sedikit solusi yang menjawab langsung alasan kenapa kategori ini sering gagal konversi online: pembeli tidak bisa memastikan sofa itu muat di ruang tamu atau TV itu pas di dinding, sampai barangnya sudah terlanjur datang dan susah diretur.

Pemulihan ritel Indonesia belum merata ke semua kategori

Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia untuk Juli 2026 mencatat Indeks Penjualan Riil tumbuh 1,1% secara tahunan, membaik jelas dibanding kontraksi 3,0% pada Juni. Tapi pemulihan ini tidak merata. Pertumbuhan "terutama didorong oleh peningkatan penjualan tahunan pada Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau serta Kelompok Barang Lainnya," sementara Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi — yang mencakup HP, laptop, dan elektronik rumah tangga — justru terkontraksi 1,7% secara tahunan, dan Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi turun 1,2%. Furnitur memang tidak punya baris tersendiri di survei BI, tapi posisinya sama dengan elektronik: kategori pembelian yang dipikirkan matang-matang, di mana pembeli butuh waktu lebih lama memutuskan dan lebih sensitif terhadap ketidakpastian soal barang yang akan mereka terima.

Itulah kondisi yang dihadapi penjual di kategori ini menjelang Harbolnas: permintaan ritel secara umum membaik, tapi kategori yang mereka jual justru tertinggal dari makanan, minuman, dan barang bergerak cepat lainnya.

Harbolnas makin besar tiap tahun, dan makin jadi perang diskon

Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas), yang berpusat di 11.11 dan 12.12, terus tumbuh. Edisi 2024 mencatat transaksi Rp31,2 triliun, naik 21,4% dari Rp25,7 triliun di 2023, dengan 98 juta pembeli berbelanja rata-rata Rp318.000 per orang — meski masih meleset dari target pemerintah sebesar Rp40 triliun. Produk lokal menyumbang Rp16,1 triliun dari total itu, naik 31% secara tahunan — kabar baik buat brand Indonesia yang serius menggarap momentum ini, bukan cuma brand asing.

Masalahnya ada di cara pertumbuhan itu dimenangkan. Liputan soal persaingan Shopee dan TikTok Shop menjelang 2026 menyebut perang promo, live shopping, dan kampanye afiliasi memaksa penjual untuk makin kreatif hanya untuk bertahan — Shopee mengandalkan flash sale dan subsidi ongkir, TikTok Shop mengandalkan live shopping yang menghibur. Bagi penjual furnitur atau elektronik, artinya traffic Harbolnas memang nyata, tapi pembeli yang datang sudah dalam mode bandingkan harga dan sudah menunggu diskon. Sekadar ikut diskon bukan strategi — itu syarat minimum supaya tetap terlihat.

Yang sebenarnya menggagalkan penjualan furnitur dan elektronik

Harga bukan satu-satunya alasan keranjang belanja ditinggalkan di kategori ini. Foto produk tidak bisa menjawab apakah sofa 2 meter akan terasa terlalu besar di ruang tamu yang kecil, apakah warna finishing kayu akan terlihat hangat atau malah oranye di bawah pencahayaan rumah sendiri, atau apakah TV 55 inci akan muat di meja TV yang sudah ada. Kalau ketidakpastian ini tidak terjawab sebelum checkout, ada dua kemungkinan: sebagian pembeli batal checkout sama sekali, sebagian lagi tetap checkout lalu meretur barang begitu sampai karena tidak sesuai bayangan — dan ini lebih mahal daripada kehilangan penjualan, karena ada biaya kirim balik, restock, plus pembeli yang sudah kadung kecewa dengan brand tersebut.

Menambah diskon tidak menyelesaikan kedua masalah ini. Bahkan bisa memperburuk angka retur, karena diskon besar justru menarik lebih banyak pembeli yang sebenarnya masih ragu apakah barangnya akan cocok di ruang mereka.

Membiarkan pembeli melihat dulu sebelum membeli

WebAR — augmented reality yang berjalan langsung di browser HP tanpa perlu unduh aplikasi — memungkinkan pembeli mengarahkan kamera ke ruang tamu, kamar, atau dinding mereka sendiri dan melihat model 3D seukuran asli dari sofa, lemari, atau TV yang mereka incar, seolah barangnya sudah ada di sana. Riset industri yang dihimpun BrandXR, berdasarkan data platform Shopify dan studi kasus sejumlah peritel, menemukan produk dengan konten 3D/AR punya tingkat konversi hingga 94% lebih tinggi dibanding yang tanpa AR, dan konten 3D/AR bisa menekan angka retur hingga 40%. Dalam uji coba khusus furnitur, Macy's melaporkan penurunan retur sebesar 25% pada produk yang ditampilkan dengan visualisasi AR/VR. Angka-angka ini berasal dari peritel dan platform internasional, bukan data pasar Indonesia secara spesifik — tapi mekanisme dasarnya, yaitu menjawab keraguan soal ukuran dan kecocokan sebelum checkout alih-alih setelah barang sampai, relevan langsung dengan masalah furnitur dan elektronik yang dijelaskan di atas.

Bentuk praktisnya untuk kebanyakan penjual Indonesia adalah penampil produk 3D yang ditanam di halaman produk (agar pembeli bisa memutar dan mengamati barangnya), dipadukan dengan mode "lihat di ruang Anda" yang aktif dengan satu ketukan, plus versi kode QR untuk pengalaman yang sama di postingan social commerce, live shopping, atau listing Shopee/TikTok Shop yang tidak bisa menyisipkan halaman web penuh.

Menyiapkannya sebelum 11.11 dan 12.12

Waktu yang realistis untuk menyiapkan ini sebelum Harbolnas memang sempit, tapi masih memungkinkan kalau mulai dari sekarang, bukan saat minggu promo sudah berjalan. Satu produk andalan — misalnya model sofa atau TV yang jadi tumpuan kampanye — biasanya bisa berubah dari foto produk menjadi penampil WebAR yang berfungsi dalam satu sampai dua minggu setelah proses modeling 3D dimulai; katalog multi-produk dalam skala kecil biasanya butuh tiga sampai enam minggu. Itulah kenapa pekerjaan teknis ini sebaiknya dimulai Oktober, bukan menunggu sampai minggu 11.11 ketika fokus sudah bergeser ke belanja iklan dan copy promo.

Ini jenis pekerjaan yang kami kerjakan di InReality Solutions — AR untuk e-commerce berbasis browser, termasuk penampil produk 3D dan mode "lihat di ruang Anda" yang bisa ditanam ke toko WooCommerce, Shopify, atau website custom yang sudah ada tanpa perlu aplikasi tambahan. Kami juga sudah menulis lebih detail soal mengubah katalog produk statis jadi interaktif, yang membahas topik ini dari sisi halaman produk. Kalau katalog Harbolnas sudah fix dan yang masih jadi pertanyaan cuma produk mana yang layak diprioritaskan untuk AR, itu obrolan singkat, bukan proyek panjang.

Sumber

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah pembeli harus unduh aplikasi untuk pakai WebAR?

Tidak. WebAR berjalan langsung di browser HP yang sudah ada (Chrome atau Safari). Pembeli cukup tap tautan atau scan kode QR, dan tampilan AR langsung terbuka — tanpa app store, tanpa instalasi.

Apakah AR benar-benar menurunkan angka retur untuk furnitur dan elektronik?

Data industri dari Shopify dan uji coba sejumlah peritel yang dihimpun BrandXR menunjukkan penurunan yang cukup berarti — hingga 40% lebih sedikit retur dengan konten 3D/AR secara umum, dan 25% lebih sedikit retur pada uji coba AR/VR khusus furnitur milik Macy's. Hasilnya bisa berbeda-beda tergantung kategori dan eksekusi; ini angka industri secara umum, bukan hasil spesifik pasar Indonesia atau klien InReality.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menambahkan penampil produk AR sebelum Harbolnas 2026?

Satu produk biasanya butuh satu sampai dua minggu dari foto produk sampai jadi penampil WebAR yang aktif. Katalog multi-produk biasanya butuh tiga sampai enam minggu — makanya memulai di bulan Oktober memberi cukup waktu sebelum 11.11 dan 12.12.

Apakah ini sepadan untuk penjual yang cuma punya sedikit SKU?

Seringnya iya, kalau SKU tersebut adalah produk yang jadi andalan kampanye Harbolnas. Memulai dari satu atau dua produk unggulan yang diperkirakan paling banyak menarik traffic adalah cara yang masuk akal untuk menguji pendekatan ini sebelum diperluas ke seluruh katalog.

Apakah WebAR bisa dipakai di listing Shopee atau TikTok Shop, bukan cuma website sendiri?

Platform tersebut memang tidak mendukung penyisipan halaman web penuh, tapi kode QR atau tautan yang mengarah ke pengalaman WebAR tetap bisa dipasang di deskripsi listing, overlay saat live shopping, atau postingan social commerce, sehingga pembeli tetap bisa membuka tampilan 3D/AR yang sama hanya dengan tap atau scan.

Devain Kapoor
Ditulis oleh Devain Kapoor

Founder & Managing Director · LinkedIn

Siap Membangun Realitas Baru?

Ceritakan kebutuhan bisnis Anda — tim kami akan merespons cepat dengan proposal yang tepat.

Chat dengan kami di WhatsApp